Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 3.)

Konon negeri jiran ini enaknya buat jalan-jalan cukup 3 - 4 hari, paling lama sepekanlah. Kalo lebih dari itu ‘mbosenin, belum lagi mesti ‘nambah biaya akomodasi dan konsumsi. Andai pun ada tempat atau event yang belum sempat didatangi saat ini, toh bisa dijadwal ulang kapan-kapan. Kan ongkos pesawatnya juga ngga’ mahal-mahal amat, asal beli tiketnya dari jauh-jauh hari. Jadi, teman-teman yang berencana jalan-jalan ke Singapura untuk pertama kalinya dalam waktu dekat ini udah mesti segera menyusun jadwal akan ke mana aja selama, misalnya 4 hari, di sana.

Nah, menyambung posting sebelumnya, di hari ke-2 perjalanan pertama aku ke Singapura Melina dan DeGe ‘ngajakin ke perusahaan penyedia jasa pembuatan virtual office, dan kantornya berlokasi di Maxwell Road. Bertiga kami gunakan moda MRT dengan tujuan stasiun Tanjong Pagar sebagai lokasi terdekat dengan jalan tersebut. Tadinya aku belum ‘ngeh kenapa mereka di Singapura koq mainnya ke kantor. Ternyata bikin virtual office dengan alamat Singapura itu kaitannya dengan rencana Melina dan DeGe buka account ClickBank karena Indonesia termasuk negara yang belum dibuka afiliasinya (Update: terhitung pertengahan Maret 2009 Indonesia udah masuk jaringan afiliasi ClickBank). Salah satu syarat bikin kantor maya tersebut mesti buka rekening di bank Singapura, dalam hal ini DBS. Kebetulan kantor DBS ngga’ terlalu jauh dari situ, jadi kami jalan kaki. Selesai urusan dengan bank, kami bertiga menuju destinasi yang merupakan salah satu landmark Singapura, Merlion Park. Karena lokasinya dari gedung DBS ngga’ terlalu jauh, kembali kami jalan kaki sambil menikmati suasana hari kerja menjelang saat makan siang.

Merlion ParkSetiba di sana, ortu dan tantenya Melina plus mamanya DeGe udah pada berfoto-foto. Mereka pada ngga’ mau kalah juga ama yang muda-muda. Udah pasti aku juga minta diambil gambar berlatar belakang patung Merlion dengan panorama gedung Esplanade seperti terlihat di foto samping ini. Kami tak berlama-lama di Merlion Park karena destinasi berikutnya lumayan jauh, IKEA Store at Tampines, sekalian makan siang. Para sesepuh berangkat duluan menggunakan taksi, sementara kami bertiga seperti biasa naik MRT. Lokasi IKEA Store sendiri rupanya ngga’ berdekatan dengan stasiun MRT Tampines, makanya disediakan shuttle bus gratis sebagai feeder-nya. Sesampai di sana kami langsung menuju food court karena udah lapar banget. Selepas makan siang barulah kami ‘ngiderin toko. Keluarganya Melina udah niat banget ‘mborong rupanya, kelihatan dari isi keranjang belanjanya. Sementara aku cukup puas dengan melihat secara langsung produk yang tadinya cuma bisa dilihat dari katalog.

Menjelang petang kami sampai di apartemen. Usai makan malam ala anak kos, kami kembali mengunjungi Mustafa Center buat cari oleh-oleh. Menyesuaikan dengan duit di dompet aku cuma beli beberapa batang coklat yang agak murah tapi ngga’ ada di Jakarta. Malam itu aku pisah dari rombongan karena ada janji dengan kerabat yang udah beberapa tahun ini kerja di Singapura, untuk bermalam di apartemennya di daerah Simei. Setelah beberapa kali naik turun MRT jadinya lumayan hapal rute-rute kalo kita mau menuju suatu tempat. Makanya walaupun sendirian aku yakin aja bisa sampai ke tujuan. Perjalanan menuju stasiun Simei memang lancar, tapi selanjutnya mulai ada masalah. Ponsel kerabat yang akan kukunjungi jadi susah dihubungi melalui ponselku. Tanpa terasa waktu udah lewat tengah malam, dan mulai agak panik karena bisa aja malam itu jadi tunawisma di negeri jiran. Sampai akhirnya muncul ide menghubungi ponsel kerabatku itu pake telepon umum yang banyak tersedia di pelataran stasiun. Untungnya masih ada koin recehan, dan alhamdulillah ‘nyambung. Bisa ketemu juga akhirnya dengannya, dan yang terpenting ada tempat buat tidur gratis malam itu.

Sesuai rencana, paginya aku kembali ke Lucky Plaza dan berkemas-kemas untuk balik ke Indonesia. Sebelum meninggalkan apartemen, memanfaatkan sedikit waktu tersisa, kami window shopping ke toserba Takashimaya yang ada seberang jalan. Menurutku meskipun berlokasi di Orchard Road, pusat perbelanjaan tersebut biasa-biasa aja karena di Jakarta masih ada yang jauh lebih bagus. Merujuk jadwal ferry yang aku pakai buat ‘nyeberang ke Batam lebih awal daripada Melina cs., aku ijin duluan bertolak ke Harbour Front. Kesepakatannya kalo aku sampai Bandara Hang Nadim, Batam, kawan-kawan ini minta tolong titip nama-nama mereka waktu check-in karena memang penerbangan kami sama, AirAsia QZ7557. Singkat cerita, bye-bye Singapore n’ tanpa kendala berarti aku udah sampai di Batam sekitar pukul 12 siang. Pas istirahat makan siang di satu gerai bakso Malang yang ada di Batam Center aku dapat kabar dari ayahnya Melina kalo ferry yang mereka pakai agak telat. Kejadian bener nih mesti mendahului ke bandara, padahal tadinya berharap bisa bareng naik taksinya biar hemat ongkos, hihihi. Udah ‘gitu kawan-kawan ini ‘nyampainya on the last minute menjelang boarding. Telat ‘dikit bisa-bisa ketinggalan pesawat. Masih teringat banget ekspresi buru-buru mereka saat lari-lari menuju meja check-in.

Alhamdulillah, akhirnya kami semua bisa bareng-bareng menuju Jakarta. Selama penerbangan itu aku sebenernya pengen banget tidur karena ‘ngantuk akibat sampai jam 3 dini hari masih ‘ngobrol dengan kerabat yang di Simei itu, tapi malah ngga’ bisa. Akhirnya cuma merem-merem ayam sambil ‘mbayangin seandainya anak istri bareng-bareng ikutan jalan-jalan ke Singapura. Mudah-mudahan segera terwujud dalam waktu yang ngga’ terlalu lama ya, teman-teman.

Satu catatan penutup berdasarkan pengalaman selama melakukan perjalanan di luar negeri, jangan mengaktifkan nomor ponsel kita di sana meskipun oleh operator dikasih fasilitas roaming. Kenapa? Mahal bo’ … tagihan bulanan pascabayarku yang biasanya kurang dari 100 ribu rupiah, abis aku pakai komunikasi di Singapura melonjak jadi lebih dari 300 ribu rupiah. Sebagai saran mendingan kita beli nomor prabayar punya operator setempat, atau pakai telepon umum aja.



About this entry