Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 2.)
Menyambung bagian pertama dari kisah perjalanan pertamaku ke luar negeri, di Meeting Point-nya Harbour Front ketemu juga akhirnya dengan Melina. Koq? Iya, emang waktu beli tiket promo AirAsia itu dia juga termasuk yang ikutan kena provokasi. Cuma Melina penerbangannya lebih awal, berikut membawa rombongan ayah, ibu dan tantenya. Dari situ kami menyusul rombongan orang tua Melina yang udah menunggu di Vivo City, mall besar dan megah yang terpadu dengan Harbour Front. Vivo City ini kalo dibandingkan dengan mall-nya Batam Center jauh banget bedanya. Di sana juga udah menunggu teman online-ku asal Bandung, Darma Gunawan a.k.a. DeGe yang berangkat bareng mamanya. Setelah sejenak basa-basi berkenalan dengan para sesepuh, kami mengantar ayah, ibu dan tantenya Melina menunggu taksi karena mereka akan kembali duluan ke penginapan. Tinggallah kami berempat, aku, Melina, DeGe dan mamanya. Mestinya sesuai rencana awal jalan-jalan ke Singapura ada satu lagi teman online-ku yang lain yaitu Adryan. Sayangnya karena pas jam keberangkatan dia ketiduran jadinya batal pergi, padahal udah aku hubungi telepon selulernya berkali-kali tapi ngga’ dijawab.
Berhubung aku belum makan malam, Melina ‘nawarin ke pujasera-nya Vivo City. Sesampainya di situ aku rada bingung juga mau makan apa saking begitu banyaknya pilihan. Melina langsung ‘ngasih arahan ke gerai yang memasang label ‘halal food’ dan harganya agak murah. Ternyata ada menu yang ‘cuma’ SGD 4.50 udah termasuk minum. Mbak pelayan di gerai makanan yang kubeli ternyata orang Jakarta juga meskipun logat bicaranya bergaya Melayu … ngga’ usah repot-repot ‘ngomong Inggris jadinya. Begitu urusan perut kelar, kami langsung menuju stasiun MRT Harbour Front yang letaknya di basement mall.
Meskipun udah cukup malam ternyata stasiunnya masih rame juga dengan orang-orang yang pulang kerja kantoran, dan pergerakan mereka ngga’ ada yang lelet. Enaknya transportasi di negara maju ini didukung dengan sistem tiket elektronik yang mesinnya tersedia cukup banyak dan pemindai (scanner) tiketnya jarang bermasalah. Kami juga ikut bergerak cepat, karena mesti mengejar kereta ke stasiun Orchard yang merupakan akses terdekat menuju Lucky Plaza. Kalo teman-teman sering ‘googling’ pasti tau apartemen di atas plaza ini merupakan salah satu tempat yang direkomendasikan banyak pelancong Indonesia beranggaran terbatas. Tarif semalamnya SGD 30 per orang, karena kebetulan lagi ‘low season’. Para cowok ‘make satu kamar di lantai 30, sedangkan para ibu juga satu kamar tapi di lantai 13. Akhirnya bisa istirahat juga malam pertama di Singapura. Sebelum bobo’ ayahnya Melina ‘ngasih tau kalo air kran di negeri jiran ini bisa diminum. Wah, asyik juga nih ‘nyobain pengalaman baru minum air kran tanpa perlu merebusnya terlebih dulu padahal rasanya sih biasa aja. Botol air kemasan yang nyaris kosong langsung aku penuhin buat persiapan jalan-jalan besoknya. Lumayan, ngga’ perlu beli air botolan.
Seusai mandi pagi kami sarapan di lantai 13. Menunya nasi, mi instant yang dimasak para ibu di dapur, dan rendang bawaan dari Jakarta. Hehehe, namanya juga pengiritan, yang penting kenyang. Pilihan destinasi pertama kami adalah Bugis Street yang katanya ‘The Largest Street Shopping Location in Singapore’. Kami naik MRT dengan tujuan stasiun Bugis yang lokasinya ngga’ jauh dari Bugis Street. Walaupun hanya selisih beberapa stasiun tapi ada acara pindah kereta di stasiun City Hall karena memang jalurnya beda. Sebenernya jalan-jalan ke Bugis Street banyakan cuci matanya aja karena setelah melihat cenderamata yang dijual di situ (T-shirt, gantungan kunci, korek api gas, magnet kulkas) kebanyakan udah punya, dapet dari dioleh-olehin teman yang sering ke Singapura. Akhirnya yang dibeli makanan juga, roti buat pengganjal perut sambil nongkrong di Bugis Junction ‘nonton orang lalu lalang.
Destinasi berikutnya sesuai hasil rembugan adalah pulau Sentosa, meskipun awalnya kami sempat agak ragu-ragu buat ke sana melihat mendung gelap yang sempat menggantung. Ternyata cuaca kembali bersahabat, dan beruntung selama tiga hari di Singapura ngga’ ada hujan sama sekali padahal pada saat yang sama di Jakarta hujan setiap harinya. Dari info yang aku baca untuk menuju pulau Sentosa ada 3 moda transportasi yaitu monorel, bis, atau taksi. Kembali kami menggunakan MRT menuju Harbour Front, dan disambung dengan monorel dari Vivo City. Sebelum bertolak ke pulau kami sempatkan makan berat sekalian biar masih kenyang malamnya, lagi-lagi di pujasera-nya Vivo City. Nama makanan yang aku santap lupa tapi bentuknya serupa kwetiau komplet dengan sayur dan lauk udang, cumi dan sejenisnya. Karena porsinya gede kenyang juga jadinya.
Pulau Sentosa sebenarnya menyediakan banyak atraksi tapi kami sepakat nonton yang ‘murah meriah’ yaitu Song of the Sea jam 6 petang. Karena ‘nyampe di sana belum terlalu sore kami sempatkan putar-putar pulau dulu. Secara umum pulau ini ngga’ lebih istimewa daripada objek wisata serupa yang ada di negeri kita. Tapi namanya juga jual jasa, ada aja keunikan yang ditonjolkan seperti teman-teman bisa lihat dari gambar sebelah ini. Satu jam sebelum pertunjukan Song of the Sea kami udah bersiap-siap di lokasi. Meskipun bukan ‘peak season’ yang berminat menyaksikannya banyak juga, tecermin dari panjangnya antrian. Seperti apa Song of the Sea bisa dibaca di blog-nya Aurora yang menghebohkan itu.
Sementara itu ‘kali karena udah cukup capek usai dari pulau Sentosa para sesepuh pengennya langsung istirahat dan balik ke apartemen. Aku bertiga Melina dan DeGe sendiri ngga’ langsung pulang ke penginapan. DeGe ‘ngajak kami ke Mustafa Center, pusat belanja yang konon ngga’ pernah libur. Ternyata bener juga, Mustafa Center ini buka 24 jam tiap hari. Barang-barang yang dijajakan bisa dibilang amat komplet, mulai dari kebutuhan sehari-hari sampai peralatan elektronik ada. Kalo liat harganya secara sepintas ngga’ lebih murah daripada di Jakarta. Karena kaki belum berasa gempor, kami bertiga menutup perjalanan malam hari itu dengan menyusuri Orchard Road sebelum kami bener-bener
beristirahat. Ini gambar yang diambil oleh DeGe di depan Singapore Visitors Centre @ Orchard. Omong-omong posting ini masih bersambung … jadi jangan lewatkan Bagian 3.-nya, ya!
You’re currently reading “Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 2.)”, an entry on dadaptree [dot] com
- Published:
- 02.28.09 / 1am
- Category:
- Leaf of Life
- Tags:
- MRT, Mustafa Center, Orchard Road, Song of the Sea
- Post Navigation:
- « Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 1.)
Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 3.) »



