Singapura, Aku Pernah ke Sana! (Bagian 1.)

Hehehe, katrok ya …? Bagi mereka yang sering bepergian ke luar negeri, jalan-jalan ke pulau yang dulunya bernama Temasek ini mungkin bukan sesuatu yang luar biasa, dan posting ini ngga’ terlalu penting buat dibaca. Tapi bagi seorang Dadap pencapaian ini bisa menjadi afirmasi bahwa kalau kita sungguh-sungguh mengejar impian kita, apapun itu, pasti akan terwujud. Ini sekaligus merevisi poin nomor 9 dari posting terdahulu. Omong-omong perjalanan ini memang udah direncanakan sejak tahun lalu, lho. Jadi bukan karena aku panas dengan Aurora, salah seorang teman online-ku belajar internet marketing.

Diawali dengan ngobrol-ngobrol di Yahoo! Conference sekitar April 2008, ada teman dari Makassar yang berbagi informasi tentang promo kursi gratis dari AirAsia. Memang kursinya cuma-cuma, tapi biaya administrasinya tetep bayar meskipun bisa dibilang masih lumayan murah, kurang dari Rp400ribu return. Ngga’ tau siapa yang mulai memprovokasi, akhirnya aku beli tiket Jakarta - Batam p.p. untuk keberangkatan 12 Januari 2009 dan kembali 15 Januari 2009. Lho koq ke Batam? Iya, Batam cuma buat transit aja sebelum ‘nyeberang ke Singapura lewat jalur laut. Ceritanya sih waktu itu buat menghemat ongkos fiskal luar negeri yang bisa cuma setengahnya daripada kalo pake pesawat langsung ke Singapura. Eh, menjelang akhir 2008 ada perubahan kebijakan perpajakan dari pemerintah yang membebaskan fiskal bagi pemilik NPWP dan berlaku per 1 Januari 2009.

Kalo dipikir-pikir kebetulan banget timing-nya. Tanpa pikir panjang aku segera mengurus pembuatan NPWP pribadi, dan 17 Desember-nya ke Kantor Pelayanan Pajak di daerah Pondok Pinang. Pada hari itu masih belum terlalu banyak orang yang mengurus permohonan NPWP baru. Makanya ngga’ sampai satu jam kartu NPWP pun udah jadi. Berasa jadi orang bijak, deh. Paspor, dokumen utama untuk pergi luar negeri juga aku urus dua pekan sebelumnya. Karena berkas persyaratannya udah aku persiapkan terlebih dahulu, proses pembuatannya relatif cepat walaupun harus mengikuti prosedur dan tarifnya resmi.

Sehari sebelum berangkat, aku sempat chatting dulu dengan Melina yang pernah sekolah di Singapura ‘nanya-nanya persiapan traveling, khususnya anggaran supaya bisa hemat. Maklumlah, dana yang tersedia terbatas dan mesti dihitung dengan rinci setiap dolar Singapura bakal pengeluaran di sana kalo dikurs dalam rupiah. Singkat cerita, 12 Januari tengah hari dengan menenteng satu travel bag ukuran tanggung plus ransel aku mulai perjalanan menuju bandar udara Soekarno-Hatta menggunakan bis DAMRI dari Blok M diiringi hujan lebat dan sempat membuatku khawatir dengan kondisi cuaca saat berangkat ke Batam. Alhamdulillah sesampainya di bandara hujan tinggal rintik-rintik. Tepat jam 3 sore AirAsia QZ7556 yang kunaiki pun tinggal landas. Sesuai namanya, low cost carrier, di penerbangan selama 1,5 jam ini ngga’ ada yang namanya dapat makan/minum karena dijual tersendiri. Makanya sebelum terbang udah aku isi perut dulu dengan makan siang cukup banyak, tapi juga tetap bawa bekal roti manis dan air minum dalam kemasan (merk-nya ngga’ perlu disebut, ya …) buat jaga-jaga.

Setiba di Hang Nadim, bandara-nya Batam, sesuai arahan Melina kalo mau ‘nyeberang ke Singapura pake ferry Penguin langsung aja naik taksi dan minta pengemudinya mengarah ke Batam Center. Tarifnya udah dipatok sekali jalan 70 ribu rupiah, relatif mahal juga kalo sendirian, padahal perjalanannya cuma sekitar 20 menit. Nah, waktu mau beli tiket ferry tercantum tarifnya SGD (Singapore Dollar) 17, jadi SGD 34 buat pergi pulang. Port tax-nya sendiri SGD 6. Udah berasa di luar negeri aja bayar pake dolar. Sebelum beli tiket ternyata mesti urusan ama imigrasi dulu. Di sini kartu NPWP ‘nunjukin kesaktiannya buat bebas fiskal. Proses di imigrasi ngga’ terlalu lama karena fotokopi kartu NPWP dan paspor udah aku siapin sejak dari Jakarta.

Singapore Travel DocumentsSetelah sempat menunggu sekitar 30 menit buat boarding, akhirnya menjelang matahari tenggelam penumpang ferry dipersilakan masuk. Beberapa penumpang ferry kelihatannya, dari aksen bicaranya, adalah warga Singapura yang akan kembali ke negaranya sehabis liburan di Batam. Tak berapa lama ferry pun bertolak. “Here I come, Singapore!” kataku dalam hati, hihihi, malu kalo kelihatan ‘ndeso-nya. Lama penyeberangan sekitar 1 jam sempat aku gunakan buat tidur sejenak. Saat terbangun terlihat dari jendela ferry pemandangan lampu-lampu di kejauhan. Aku pikir udah mau sampai, ternyata itu baru setengah perjalanan. Rupanya pelabuhan tujuan, Harbour Front, berada di sisi lain dari daratan Singapura.

Sekitar pukul 8 malam waktu setempat, ferry merapat di dermaga Harbour Front. Akhirnya, kesampaian juga nih jalan-jalan ke luar negeri. Begitu menginjakkan kaki di daratan langsung disambut petugas imigrasi yang udah menunggu dengan senyum manisnya, iya soalnya perempuan keling etnis India, di pos pemeriksaan. Sebelum men-stempel pasporku sempat ditanya-tanya dulu untuk apa ke Singapura, berapa lama, tinggal di mana. Beres dengan imigrasi aku mulai celingak-celinguk mencari seseorang yang berjanji akan menemui di meeting point-nya Harbour Front. Mau tau? Simak lanjutan dari kisah ini di posting berikut.



About this entry