Security, Sekuriti, atau Satpam?
Setelah menerbitkan tiga posting-an, berasa juga kalo ‘nulis artikel berbahasa Inggris ternyata gampang-gampang susah. Gampang kalau tinggal copy-paste, dan mulai berasa susah kalau mesti rewriting … apalagi bikin yang murni dari gagasan kepala sendiri. Maklumlah otak ini mindset-nya masih berbahasa Indonesia, dan kadang-kadang berbaur dengan Basa Jawa Ngalam-an. Makanya biar ga’ mikir dua kali, posting-an kali ini dan mungkin juga di sebagian posting-an mendatang isinya pakai Bahasa Indonesia aja. Selain itu aku kecian juga ternyata ada pembaca yang habis mampir ke dadaptree [dot] com mengeluh kadit itreng bahasanya mister Barack Obama ini.
Kembali ke judul artikel … nah, kalau yang ini ga’ jauh-jauh dari kerjaanku sekarang. Perusahaan yang menggajiku bulanan ini bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan satuan pengamanan. Salah satu visinya adalah menjadikan satuan pengamanan sebagai pilihan profesional, bukan sebagai pilihan terakhir dalam mencari pekerjaan. Bener lho, ini serius! Profesi sebagai pengaman itu ada syarat kompetensinya, dan sebagai unsur pembantu kepolisian negara juga diberikan payung hukum.
Lalu, apa bedanya security, sekuriti, dan satpam? Yang sok ke-inggris-inggris-an sering menulisnya ’security’ dan lucunya dialihbahasakan begitu aja menjadi sekuriti. Padahal arti pertama dari ’security’ di kamus adalah keadaan aman alias bebas dari bahaya. Demikian juga di Kamus Umum Bahasa Indonesia, sekuriti dijelaskan lebih kurang sebagaimana terjemahan tersebut. Meskipun ada arti lain dari kata tersebut yaitu orang yang bertanggung jawab melindungi, kurang pas ya kita yang di Indonesia menyebut petugasnya sebagai ’security’ maupun sekuriti? Ya iya lah … masa’ ya iya dong.
Pemeriksaan kendaraan oleh satpam di area pertambangan.
Istilah satpam (akronim dari satuan pengamanan) sendiri diperkenalkan pada 1980 oleh Awaloedin Djamin, Kapolri pada waktu itu, sebagai sebutan baku untuk kelompok petugas pengaman di lingkungan kerja. Sayangnya, sampai sekarang masih ada instansi yang lebih suka memakai istilah sendiri seperti PKD (petugas keamanan dalam?), pamdal, atau kamdal. Untung aja ga’ ada yang menyebut petugas pengamannya sebagai kadal.
Nah, sebagai satpam ternyata modalnya bukan tampang sangar atau badan gede aja. Sebagaimana halnya profesi-profesi lain, satpam juga mesti dibekali pendidikan khusus. Pada tahap pertama yang dibentuk adalah sikap mental kepribadian dan pembinaan fisik. Jadi, kalau ketemu satpam yang sikap mentalnya negatif atau kebugaran fisiknya payah, bisa jadi satpam tersebut cuma centeng yang dikasih seragam, dan mungkin ga’ pernah ikut pendidikan.
Tahap kedua pendidikan berupa pemberian pengetahuan dan keterampilan teknis profesi yang mirip-mirip dengan kemampuan bintara polisi, tapi terbatas hanya boleh diaplikasikan di lingkungan kerja masing-masing satpam. Sedangkan tahap ketiga berbentuk pelatihan teknis dan pembekalan yang merupakan pembulatan dari seluruh tahap pendidikan. Dari literatur yang pernah aku baca, standar lamanya waktu untuk mendidik seorang satpam lebih kurang 4 minggu.
Alinea terakhir nih, penyelenggara pendidikan satuan pengamanan mesti lembaga khusus. Untuk pendidikan dasar dan madya hanya boleh diselenggarakan oleh lembaga pendidikan kepolisian negara, atau badan usaha jasa pengamananan yang punya ijin operasional pelatihan dari kepolisian negara. Omong-omong, perusahaan tempatku kerja punya juga ijin tersebut lho. Sekarang siapa yang mau dididik jadi satpam, hayo?
You’re currently reading “Security, Sekuriti, atau Satpam?”, an entry on dadaptree [dot] com
- Published:
- 08.13.08 / 5pm
- Category:
- Just a Job to Do
- Post Navigation:
- « A Remedy for Curiousity
Google Merambah ke Peramban »






