Google Merambah ke Peramban

Tak puas hanya sebagai pemimpin pasar mesin pencari (search engine) Google kini menantang Mozilla Firefox secara frontal dengan melepas Chrome sebagai browser tandingan tepat di hari aku berulang tahun. ‘Kado’ buat aku? Ya ngga’-lah, ini kan kejutan buat pengguna internet pada umumnya yang kebetulan aja bersamaan waktunya dengan tanggal kelahiranku.

Apa yang menarik dari browser baru ini? Kesan pertama menggunakan Chrome adalah halaman depannya yang sangat minimalis. Dari hasil pencarian lewat google.co.id aku tahu beberapa pengamat telah melakukan tinjauan atas Google Chrome, di antaranya kecebongsoft dan triyan. Mereka membahasnya cukup lengkap, baik kelebihannya maupun kekurangannya. Makanya kalau aku juga ikut-ikutan meninjau dari aspek yang sama, artikel ini pasti ngga’ ada apa-apanya.

dadaptree-googlechrome

Kita bahas yang lebih enteng aja ya. Secara teknis bila kita ingin menginstalasi Chrome ngga’ terlalu sulit koq. Kita cukup mengunduh (download) dari Google, dan tinggal ikuti perintah-perintah selanjutnya. Yang bikin heran ternyata instalasi ini rupanya diatur secara otomatis menyesuaikan negara tempat mengunduh. Makanya, begitu si Chrome ini tampil di layar koq menunya udah pintar berbahasa Indonesia? Lucunya lagi, ada beberapa istilah yang kedengaran aneh seperti halnya ‘peramban’ itu tadi yang ternyata setelah aku bandingkan dengan versi Inggrisnya adalah alihbahasa dari browser. Sebagai orang Jawa aku taunya ramban itu rumput pakan ternak seperti kambing, sapi atau kuda.

Bagi yang terbiasa menggunakan google.co.id mungkin kata tersebut udah ngga’ asing. Lain halnya dengan aku yang lebih sering memakai google.com untuk melakukan penelusuran (searching). Dari situ aku jadi pengen tau istilah-istilah tak umum apa lagi yang ada di Google versi Indonesia. Oh, ternyata ada ‘Tembolok’ yang merupakan padanan dari Cached, sedangkan ‘Laman’ terjemahan dari Page. Meski demikian, masih ada beberapa kata Bahasa Inggris seperti bookmark dan default yang tetap ngga’ dialihbahasakan di Chrome versi Indonesia. Barangkali para penerjemah di Google Indonesia belum menemukan padanan yang pas untuk kata-kata tersebut.

Berhubung masih versi Beta dan dari sejumlah tinjauan menyebutkan adanya bug, peramban Chrome ini belum aku jadikan sebagai default untuk menggantikan Firefox. Omong-omong, tanpa sadar aku ternyata udah mengoleksi beberapa peramban, mulai dari IE (yang ini hampir ngga’ pernah kupakai), Opera, Safari, sampai Flock-nya Mozilla. Ada yang belum ‘nyobain Chrome?



About this entry